Posts

Perihal Yang Tak Bisa Disatukan

Ku akui, belajar tidak selamanya menyenangkan, tidak selamanya memberi arti, tidak selamanya mampu mengubah. Sama seperti aku ketika bersamamu. Tak ada yang kebetulan, tak ada pula kata terlalu singkat. Karena denganmu, aku belajar banyak hal yang selama ini ada bersamaku namun tak pernah kusadari kehadirannya. Yang aku yakini, kamu adalah pelipur lara yang Tuhan kirimkan untukku. Mengobati luka yang pernah menganga sebelumnya. Mengambil penuh tanggung jawab atas apa yang tidak kamu perbuat. Kuakui, aku lupa rasanya bahagia, dan kau datang memberikanku rasa itu. Kuakui, aku enggan tersenyum, namun kau datang mengajarkanku senyum. Kuakui, aku dipeluk erat oleh sebuah sedih, dan kau datang menggantikan pelukan itu dengan tawa. Yang aku yakini, kamu adalah pelipur lara yang Tuhan kirimkan untukku. Hingga kita sama-sama tersadar ada hal-hal yang tak akan pernah bisa kita satukan, bahkan oleh seluruh kebahagiaan yang telah kamu berikan.

Garis Kita Tak Akan Pernah Bertemu, Bukan?

Lantas, apa yang harus aku lakukan saat ini? Selain pasrah dikalahkan oleh detak jam dinding yang akhirnya memecah sunyi antara kita. Tiga puluh. Sudah tiga puluh kali jarum penunjuk detik menyelesaikan tugasnya mengitari jam dinding yang terpampang jelas bahkan dari sudut mataku. Lidahku kelu; disaat yang tidak tepat. Kuulang lagi sederetan kalimat yang telah kususun sejak 2 hari lalu ketika aku akhirnya dengan tekad yang di-bulat-bulat-kan mengajakmu pergi. "Pasti bisa!" Bodoh! Tak ada hal yang lebih bodoh dari apa yang barusan aku lakukan. Alih-alih menyemangati diri, nyaliku malah semakin ciut ketika dia dengan kening berkerut bertanya "Apa? Pasti bisa apa?" "Eng.. ada yang ingin aku bicarakan." Tiba-tiba ada dorongan besar dari dalam diriku untuk mengatakannya. Kupastikan lagi bahwa apa yang barusan kukatakan adalah keputusan yang tepat dengan menghitung kancing kemeja yang kukenakan. "Bilang." "Ngga." "Bilan...

Siapa Yang Paling Mampu Bertahan?

"Aku sengaja mencarimu, diantara tumpukan buku yang ceritanya tertulis dengan rapih setiap harinya. Ternyata masih ada kamu disana; walau tak tersurat dengan sempurna, walau kisahnya tak seindah dulu. Ah, iya! Aku lupa menanyakan sesuatu: "Apa kabar?" Kabarku? Aku masih belajar, bahkan sampai detik ini. Kakiku masih lemah, belum cukup kuat menopang tubuhku yang semakin hari semakin berat, menopang hati yang dindingnya sudah terlalu tebal. Terkadang, hidup se-sok-tegar itu, berusaha tetap berdiri tegap walau badan digerayangi beban. Sayangnya, aku tak bisa berbagi. Kamu tak ubahnya gelombang laut, mengejar gelombang lain yang ada di hadapanmu tanpa tahu gelombang lain juga sedang berusaha menggapaimu. Aku tak ubahnya kapal tanpa kapten. Bergerak mengikuti arus air, tanpa tahu dimana akan berlabuh, mencoba sekuat mungkin bertahan diatas hempasan gelombang laut yang saling mengejar. Kita berada di tempat yang sama, namun tak lagi se-tujuan. Kamu b...

Berbeda

Apa yang kau tau tentang duniaku, Tuan? Bertingkah laku seolah kau sudah tau banyak hal, mengatur semuanya sedemikian rupa, tanpa ada lagi kauingat bahwa aku masih harus terlibat. Bersatukah dua orang insan jika mereka sama-sama memegang kendali? Bersatukah dua orang insan jika mereka mempunyai tujuan yang berbeda? Kau selalu seperti itu, Tuan. Mengambil alih kendali semaumu tanpa kau tanyai aku. Seolah bertanya mauku adalah hal tersulit dalam hidupmu. Lantas, kemana akan kita kembangkan layar ini? Ke sisimu atau ke sisiku? Napasku sudah hampir habis, tak ada lagi kutemukan harap di dalamnya. Senyumku getir setiap kali mereka bilang aku adalah wanita paling bahagia karena memilikimu. Mungkin. Mungkin iya aku wanita paling bahagia di dunia, tapi itu dulu, saat namaku masih menjadi napasmu, saat kakimu tak akan pernah melangkah ketika tak ada aku disisimu, saat belum kutemukan namanya yang ternyata masih menemani tidurmu.

Terperangkap

Hatinya penuh bunga, bunga mawar. Yang ketika kau ingin menikmati keindahannya, kau harus rela sakit tertusuk durinya terlebih dahulu. Hatinya cantik seperti bunga, hanya saja dibentengi oleh sikapnya yang kurang peduli. Ia pernah terluka dulunya, ketika ia membiarkan siapa saja mendekatinya, tanpa tau maksud jahat yang mereka bungkus rapi dengan segala senyum manis mereka. Lama-kelamaan, senyum itu berubah menjadi seringai, dan ia tak sadar sudah terjebak. Berada di dalam perangkap orang yang dia pikir akan menjaganya dengan tulus, ternyata ia salah besar. Mereka hanya kesepian, mereka penasaran dengan hati yang cantik itu, lantas mereka menggunakan berbagai cara untuk menaklukkannya. Kini hatinya sedang tak baik, yang tersisa hanyalah duri. Perempuan itu tak mengerti apalagi yang harus ia jaga dengan duri-duri itu, bunga-bunga mawar telah dicuri semuanya. Ingin ku dekap ia dalam pelukku, tapi aku hanyalah seorang pengecut, yang nyalinya lenyap diterbangkan angin malam.

Penderma Kebahagiaan

Kau seperti seorang penderma, berjalan kesana-kemari menebarkan kebahagiaan. Suatu hari, kau temukan aku telanjang dengan segala kesedihanku. Kau, seorang penderma tadi, menghampiriku. Kau ulurkan tanganmu hingga aku melihatmu dengan mata sayu. Tidak, aku tak akan percaya, hatiku sudah terlalu rapat kukunci untuk kemudian kubuka lagi. Keesokan harinya, kau datang lagi, seorang penderma kebahagiaan yang berjalan-jalan untuk menemukan siapa yang membutuhkan pertolongan. Kau temukan aku lagi, kau ulurkan tanganmu, namun responku tetap sama. Tanganmu kuanggap sama dengan tangan mereka yang lain. Hingga hari kelima, kau datang lagi, kau ulurkan tanganmu dan entah kenapa, aku menyambut tangan itu dengan getaran hebat di sekujur tubuhku. Kau bawa aku pulang, memakaikanku busana bernamakan kebahagiaan. Aku terhanyut begitu rupa, menikmati kasihmu yang kian hari kian manis. Senyumku tak lagi terkontrol, bahagiaku mengalir deras di setiap pembuluh darahku. Hingga suatu hari, aku tersad...

Berbagi Kisah di Jarak yang Berbeda

Sebentar lagi semuanya akan kembali berjarak, ribuan kilometer jauhnya. Kisah kita akan ditulis dari dua tempaf yang berbeda, yang entah berapa ratus hari lagi akan disatukan. Sedihku baru saja akan dimulai. Dimana harapan, rencana, dan angan-angan memang tak selalu harus terkabul, di titik itulah aku harus kembali menata hati, demi dia yang sudah lebih dulu sakit hatinya. Hari ini aku akan kembali. Membawa lagi ujung benang yang ternyata harus kita bentangkan lagi. Tak ada yang akan menduduki kursi kosong yang telah kusediakan untukmu dari jauh hari. Akan kulewati jalan-jalan sendirian, menapakkan kaki di tempat dimana aku  telah menyiapkannya untuk kita lewati. Hari ini aku akan pergi, membawa kembali rasa yang ku tata rapi di dalam jiwa. Hanya kali ini saja, setelah ini, bawa aku dalam doamu, agar tak ada air mata pengiring langkahku. Aku pergi, membawa janji bahwa akan kujaga diriku sebaik dan sekuat yang aku bisa; untuk kamu. Katamu, kamu ingin mengikutiku kemanapun aku p...