Posts

Ideal Way to Love

Image
Cause loving you is never easy
to love myself too
never.

But one thing i realise
everytime i'm sad
that i still want to love you more
day by day.

Maybe this is not the right way to love
so, i'll try another one.

Because this is so confusing
if only i can read every mind
can feel every hidden feeling.

But that is not how it works
because i found
that to love is to learn more.


I really don't know
what the ideal way to love you.

I'm still learning on it instead
everyday.

So, i'm so sorry if i made so much mistakes
if my ego suddenly uncontrolled
and if you are hurted that much.


Bahagia

Pada mereka yang diam-diam merapal doa yang sama: harapkan kebersamaan tiada akhir, aku bertemu kembali. Dia bilang doanya telah dijawab, oleh Sang Pemilik Dunia. Tak akan ada lagi tangan yang terbentur layar kala hendak mengusap pipinya yang basah. Pulsa yang harus dijemput jauh, bahkan di tengah gemuruh petir, sudah tamat riwayatnya.
Terakhir kali bertemu dengannya musim panas lalu, ku pikir ia telah lelah. Sumber air kering kerontang, sedang bibirnya harus terus merapal doa. Ternyata tidak, ia hanya beristirahat, untuk melanjutkan perjuangannya kembali.
Yang tampak di mataku kini hanyalah sepasang mata yang berbinar penuh kebahagiaan, dua gigi besar itu tak lagi bersembunyi di balik bibirnya yang sempat terkatup rapat. Langkahnya ringan, tak peduli sejauh apa harus melangkah. Melihatnya berbahagia, perlahan senyumku ikut merekah.

Fought

This is the last day of September, And i feel broken.
By what i've been thru, By something i kept inside my heart.
I know too much thing, And i decided to keep it all for me.
Because i hate the idea of losing someone i love, Losing something i fought for for this years.

Nyatanya.

Ada banyak hal yang terjadi di tempat ini saat ini. Tentang hal-hal yang sebelumnya sempat ingin kuketahui. Tentang mereka yang senantiasa ada bersamamu di setiap musim hidupmu.
Hingga akhirnya hari ini tiba, dimana bisa kulihat dengan jelas wajah-wajah mereka yang sebelumnya hanya mampu kusimpan dalam imajiku. Tentang mereka yang jauh lebih nyata dari diriku.
Ku pikir aku kuat, ternyata tidak. Aku menangis, tapi tangisanku tersimpan di dalam relung hati. Inginku pergi, tapi kutahu ini sungguh tak pantas.
Hari ini aku tersadar, mengenalkanku dalam dunia nyata tak akan pernah semudah itu. Harapanku terlalu tinggi melampaui anganku.

Bersiap

Ada hal yang menarik ketika kamu tau setiap jalan yang kamu lewati mempunyai ceritanya masing-masing. Terutama tentang orang yang bersamanya telah kamu lewati ribuan hari, berbagi suka dan duka.Tak sedang sedih waktu itu, tiba-tiba saja aku berhenti di pinggir jalan, lalu memutuskan berjalan kaki menuju rumah.Tak berapa lama berjalan, air mataku tiba-tiba menetes. Rasanya semuanya begitu emosional. Tapi ku tak punya wadah lagi untuk bercerita. Semuanya terpaksa ku simpan sendiri agar tak timbulkan kesalahpahaman seperti dulu kala.Waktu itu jalanan yang ku lewati lumayan redup, tangisku semakin menjadi, ia tak takut ada yang melihat. Aku menangisi hal yang tak ku ketahui apa. Hanya saja semuanya terasa berat. Dan yang terberat dari itu semua adalah kenyataan bahwa aku seorang diri. Tiada manusia yang mampu menemani saat itu.Rasanya aku disuruh bersiap. Tentang apapun yang akan ku hadapi selanjutnya. Atau setidaknya, air mataku sudah jatuh terlebih dahulu, sehingga nanti ketika saatnya …

#KisahMereka: "Pergi."

Image
Sinar mentari yang perlahan menghilang menandakan kepergian siang dari sisi Bumi. Tak ada lagi berkas sinar yang menerangi kamar itu, tinggal gelap berganti peran. Mereka enggan beranjak dari ranjang sejak dua malam lalu. Sama dengan kopi yang telah mereka seduh sebelumnya, tak berkurang sedikitpun.

Sejak dua malam lalu, keadaan rasanya semakin sulit. Mereka banyak merengek-rengek satu sama lain, mengeluhkan ruang dan waktu yang terbatas hadirnya. Ini yang mereka benci, ketergantungan yang tercipta saat bersama, sebentar lagi hanya akan ada dalam ingatan.

Ada yang tak sama kali ini, tentang setiap keadaan yang akan berubah tak seperti sebelumnya. Semuanya terlalu baru hingga asing rasanya. Angin malam yang berhembus kencang di balik jendela memaksa masuk lewat celah sempit bingkainya namun kerap kali mereka abaikan seolah tubuh sudah kebal angin.

Ada yang berbeda kali ini, tentang segala keluh yang tak lagi bisa disampaikan kapan saja, tentang segala lelah yang entah dengan apa lagi …

Yang Tak Pernah Hilang

Mengingat pertemuan kita kala itu, rasanya ingatanku dibawa mundur beberapa ribu hari ke belakang.

Meninggalkanmu sendirian di kota itu rasanya seperti memintamu menjaga rumah beserta segala isinya agar tak diintai pencuri.

Waktu itu, tak banyak yang kuinginkan diam-diam dalam hati, hanya agar kau tetap sabar menungguku pulang.

Hingga pada akhirnya di suatu kesempatan lain, keadaan memaksamu untuk pergi juga. Meninggalkan kota yang menjadi rumah bagi kita. Membiarkan seisinya tanpa ada yang menjaga lagi.

Ternyata mereka kuat. Tak ada seorangpun yang mampu mengambil mereka. Mungkin jika mereka bernyawa, mereka akan menghitung mundur hari kalau-kalau kita kembali ke rumah.

Mereka juga tidak tertinggal. Walau kita sedang tak bersama, mereka senantiasa ada dalam ingatan.

Heran sekali, bagaimana mungkin kenangan lebih mampu setia daripada penciptanya?